Home Berita Terbaru Tantangan Sepak Bola China: Mimpi Besar yang Hancur Berantakan
Berita Terbaru

Tantangan Sepak Bola China: Mimpi Besar yang Hancur Berantakan

Share
Share

China dikenal sebagai salah satu negara terkuat di dunia saat ini. Dengan populasi terbesar di dunia dan ekonomi yang berkembang pesat, negara ini menjadi pusat perhatian internasional. Namun, di balik kesuksesannya di berbagai sektor, China mengalami kemunduran besar di salah satu bidang yang diidam-idamkan oleh pemerintahannya: sepak bola. Mimpi besar China untuk menjadi negara adikuasa di dunia sepak bola kini hancur berantakan, dengan presiden Xi Jinping pun mulai menyerah pada impian tersebut.

Sejak Presiden Xi Jinping memimpin, ia memiliki ambisi besar untuk mengubah wajah sepak bola di China. Sebagai seorang penggemar berat sepak bola, Xi bercita-cita agar China bisa kembali tampil di Piala Dunia, menjadi tuan rumah Piala Dunia, dan bahkan memenangkan turnamen paling bergengsi itu. Namun, sepuluh tahun setelah cita-cita besar ini dimulai, apa yang diharapkan Xi kini tampak semakin jauh dari kenyataan.

Mimpi Besar yang Terlalu Jauh

China memang memiliki potensi besar dalam banyak bidang, termasuk olahraga. Mereka pernah memimpikan masa depan cerah untuk sepak bola mereka, namun kenyataannya berbeda. Pada tahun 2024 dan 2025, sepak bola China memasuki masa kelam. Tim nasional China hampir dipastikan tidak akan lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Dalam kompetisi Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, China bahkan kalah bersaing dengan timnas Indonesia di Grup C, yang memunculkan tanda tanya besar di seluruh dunia.

Pada saat ini, untuk lolos langsung ke Piala Dunia 2026, China harus finis di dua besar Grup C. Sementara jika ingin lolos lewat putaran empat, mereka harus berada di urutan tiga atau empat klasemen akhir. Namun, dengan tiga kekalahan beruntun yang dialami China—dari Australia, Arab Saudi, dan Jepang—harapannya untuk lolos semakin tipis. Kekalahan memalukan 0-7 dari Jepang pada September 2024 menjadi bukti nyata dari keterpurukan mereka.

Mimpi yang Hancur: Kegagalan yang Tak Terduga

Pada tahun 2013, Xi Jinping yang merupakan penggemar berat sepak bola, memulai rencana besar untuk mereformasi sepak bola China. Dia berambisi untuk menjadikan China sebagai kekuatan utama di dunia sepak bola. Salah satu langkah awal yang diambil adalah dengan investasi besar dalam infrastruktur sepak bola, seperti pembangunan stadion dan pembentukan liga yang lebih profesional.

Namun, meskipun ada investasi besar dalam hal infrastruktur, masalah mendalam tetap menghambat perkembangan sepak bola di China. Ketika liga profesional China mulai berkembang pesat pada 2010-an, banyak klub top dunia yang tergoda untuk bermain di liga ini karena tawaran gaji besar. Pemain top dari Liga Inggris, seperti Oscar, Ramires, Marouane Fellaini, dan Didier Drogba, sempat merumput di China. Ini menjadi gebrakan yang mengguncang dunia sepak bola.

Namun, gejolak ekonomi yang melanda China, ditambah dengan pandemi COVID-19, menyebabkan banyak klub sepak bola profesional di China bangkrut. Lebih dari 40 klub sepak bola di China gulung tikar akibat kekurangan investasi. Bahkan klub-klub besar seperti Guangzhou Evergrande dan Jiangsu FC harus menghentikan operasi mereka karena kekurangan dana dan pengelolaan yang buruk.

Ketidakmampuan Pemerintah China Mengatur Sepak Bola

Salah satu alasan utama kegagalan China dalam sepak bola adalah ketidakmampuan pemerintah untuk mengatur dan memberi kebebasan kepada federasi sepak bola mereka, Asosiasi Sepak Bola Tiongkok (CFA). Dalam sistem pemerintahan China yang dipimpin oleh Partai Komunis, banyak aspek kehidupan publik yang dikendalikan secara ketat. Ini termasuk sepak bola. Presiden CFA, Song Cai, juga merangkap jabatan sebagai Wakil Sekretaris Partai Komunis, menunjukkan betapa eratnya kaitan antara politik dan olahraga di China.

Pada tahun 2015, China sempat mencoba untuk memberi CFA otonomi lebih besar, tetapi langkah ini terbukti gagal. Ketika pemerintah mengintervensi terlalu banyak dalam urusan olahraga, perkembangan sepak bola menjadi terhambat. Sebagai hasilnya, liga-liga domestik kurang berkembang, dan pengembangan bakat pemain muda juga kurang maksimal.

Korupsi dan Skandal Pengaturan Pertandingan

Selain masalah pengelolaan, sepak bola China juga dibayangi oleh korupsi yang meluas. Seiring dengan prestasi yang menurun, pengaturan pertandingan dan perjudian ilegal mulai merusak integritas permainan domestik. Pada tahun 2024, setelah kekalahan memalukan dari Jepang, sebuah penyelidikan besar-besaran dilakukan, dan banyak pemain, pelatih, serta pejabat sepak bola China yang ditangkap karena terlibat dalam pengaturan pertandingan dan suap.

Salah satu nama besar yang terlibat dalam kasus ini adalah Li Tie, seorang pesepakbola legendaris yang pernah bermain di Liga Inggris bersama Everton dan tampil di Piala Dunia. Li Tie ditangkap dalam operasi anti-korupsi yang menargetkan pejabat tinggi dalam dunia sepak bola China. Pada bulan Desember 2024, Li Tie dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, menambah panjang daftar skandal yang merusak citra sepak bola China.

Upaya Reformasi yang Gagal

Ketika Xi Jinping pertama kali memimpin, ia memiliki ambisi besar untuk mengubah wajah sepak bola China. Namun, seiring berjalannya waktu, Xi mulai menyadari bahwa impian besar itu semakin jauh dari kenyataan. Dalam percakapan dengan Perdana Menteri Thailand di 2023, Xi bahkan menyebutkan bahwa kemenangan baru-baru ini melawan Thailand adalah “keberuntungan.” Ini menunjukkan bahwa optimisme Xi mengenai masa depan sepak bola China semakin memudar.

Partai Komunis China, yang biasanya berhasil dalam berbagai sektor, ternyata kesulitan saat berusaha menguasai sepak bola. China telah berhasil di sektor lain, seperti kendaraan listrik dan Olimpiade, tetapi sepak bola tetap menjadi tantangan besar yang sulit diatasi. Mark Dreyer, seorang penulis olahraga yang berbasis di Beijing, mengatakan, “Ketika pemerintah China bertekad untuk melakukan sesuatu, sangat jarang gagal. Namun, sepak bola adalah salah satu sektor yang mereka gagal kuasai.”

Masa Depan Sepak Bola China: Apa yang Bisa Dilakukan?

Tantangan besar kini berada di depan mata. China telah menyadari bahwa untuk sukses dalam sepak bola, mereka perlu memberi lebih banyak kebebasan pada pengelolaannya, dan mengurangi campur tangan politik yang terlalu dalam. Ke depannya, China harus fokus pada pengembangan bakat muda dan perbaikan sistem liga domestik agar bisa membangun fondasi yang kokoh untuk sepak bola mereka.

Namun, melihat sejarah kegagalan yang ada, jalan menuju sukses bagi sepak bola China masih panjang dan penuh dengan rintangan. Tanpa perubahan besar dalam sistem pengelolaan, impian China untuk menjadi kekuatan sepak bola dunia mungkin akan tetap menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan.

Share
Related Articles

Derby Merseyside Liverpool vs Everton, Duel Panas di Anfield

Hello, football lovers! Siapa yang tidak kenal dengan Derby Merseyside? Pertemuan klasik antara Liverpool dan Everton ini...

Olahraga dan Wisata Pendakian Gunung – Melangkah Menuju Puncak, Menemukan Ketenangan

Pernahkah kamu merasa terjebak dalam rutinitas sehari-hari dan mendambakan ketenangan serta petualangan...

Mees Hilgers Dipastikan Absen dalam Laga Indonesia vs Bahrain, Cedera Bek Tim Garuda

Pada Sabtu malam, 22 Maret 2025, Tim Nasional Indonesia mengumumkan kabar yang...

Kode Redeem FC Mobile Maret 2025 – Dapatkan Hadiah Menarik dan Perkuat Tim Anda!

Bulan Maret 2025 ini adalah waktu yang sangat baik bagi para pemain...